oke, gak tau kenapa jadi pengen nulis kayak gini.
untuk seseorang yang pengen banget aku mintain maaf tapi gak kesampean ampe sekarang, dan kayaknya kamu bahkan udah lupa sama kejadian itu *saking lamanya.
hmm, alasanku nulis disini sih soalnya blogku gak banyak diketahuin orang dan pastinya kamu juga gak tahu. jadi ada kemungkinan kamu gak baca tulisan ini. *loh?
hmm, apalagi yaaa.
untuk seseorang yang tahu tulisan ini untuk siapa, jangan bilang-bilang sama dia yaa. *hahahaha
gak tahu deh bingung, yang jelas aku mau bilang terimakasih untukmu, mungkin kamu gak sadar kalo kamu pernah jadi inspirasiku, sampai-sampai aku bikin cerpen ngaco tentangmu.
kamu tahu, menurutku. satu hal tentangmu adalah ES BATU.
yaa, es batu soalnya sifat kamu kayak es batu. mau tahu? perhatiin aja es batu selama 15 menit, kamu pasti tahu kenapa aku bilang kamu mirip es batu.
seseorang pernah bilang sama aku "lawannya suka itu bukan benci, tapi gak peduli."
nah, karena aku gak mau perasaan itu berkembang kayak bunga ditaman, makanya aku lebih milih buat diem dan gak peduli sama kamu atau hal yang berhubungan denganmu, tapi kok rada susah yaa? kadangm jatuhnya malah nyesek.
ah, udahlah. besok mau TES malah curhat di blog. sudah sudah, sudah selesai curhatnya. oke :)
Senin, 31 Desember 2012
Senin, 01 Oktober 2012
A Little story about Mr. Argument
“...Saya tidak
setuju dengan pendapat anda, menurut saya teori Darwin adalah teori yang tidak
masuk akal..”
“Interupsi,
bagaimana mungkin anda berkata seperti itu padahal anda mengetahui jika
bukti-bukti penemuan itu ada.” Aku mengangkat tanganku sambil menatap tajam
cewek didepanku.
“Oh, itu
jelas sekali apakah pernah anda menemukan monyet yang berevolusi menjadi
manusia, lagipula anda tahukan manusia pertama didunia adalah nabi adam dan
nabi adam adalah seorang manusia, saya tegaskan sekali lagi manusia.” Ia
membalas menatapku tajam tapi entah mengapa diantara tatapan tajamnya aku
melihat kesedihan.
“Jadi anda
mau bilang kalau semua teori Darwin adalah omong kosong? Dan semua penemuannya
adalah palsu? !”
“Pada
faktanya begitu kan? Lagipula pada zaman dahulu monyet juga sudah ada, dan anda
tahu kan kalau jenis monyet didunia ini tidak hanya satu. Bisa saja yang
ditemukan Darwin adalah fosil monyet jenis A, pada penemuan yang kedua B,
begitu juga seterusnya..”
“Teng.. Teng..
Teng..” Suara bel dibunyikan tiga kali itu artinya waktu habis.
“Wuah seru
sekali sepertinya sampai-sampai saya tidak menyadari waktu yang berlalu, oke
buat kedua tim silahkan bersalaman dan kembali ke tempat masing-masing.”
Seorang MC mempersilahkan kami bersalaman.
Gue menangkupkan tangan didepan dada sambil tersenyum dan sepertinya ia
juga melakukan hal yang sama.
Gue Caprinsa
Reza Dewantara. Kalian cukup panggil gue Reza, gue anak basket dan meskipun
bukan kapten basket gue termasuk anak yang populer tapi bukan gara-gara
prestasi basket yang gue raih melainkan prestasi debat. Yap gue anak debat, gue
suka banget sama yang namanya debat bagi gue debat bukan Cuma bagaimana caranya
agar kita bisa mempertahankan argumen kita, tapi bagaimana kita mempertahankan
argumen, mengalahkan argumen lawan tapi gak kepancing emosi, karena banyak orang kalah
debat hanya karena masalah emosi. Oke, sekarang gue lagi ikut lomba debat
disalah satu universitas islam di kota gue. Oya, cewek yang tadi ngelawan gue
pas debat tadi namanya Cinta atau lebih lengkapnya Fraya Cinta Priscillia. Dia
teman gue bukan lebih dari sekedar teman dia sahabat gue. Kita udah sahabatan
dari kecil mungkin karena orang tua kita dekat kali ya, nyokap dia itu senior
nyokap gue waktu kuliah dan mereka akrab banget.
Kamis, 10 Mei 2012
::untitle II::
oleh Agnes Yulisa
Hari ini tidak seperti biasanya, gue hanya duduk di pinggir
lapangan mengamati teman-teman gue main basket. "Ah, gue lagi males, elo
aja yang main" begitu kata gue saat Ferdy maksa-maksa gue turun ke
lapangan. gue enggan bertanding melawan anak kelas X, bukan lawan yang
sebanding buat gue. Lagipula, Siang ini cuacanya lebih terik dari biasanya. Ah
Jakarta, makin sesak saja kota ini, entah apa yang ada dipikiran kaum urban
ketika mereka berbondong-bondong mendatangi Jakarta, menaruh harapan besar pada
kota ini, apa yang mereka harapkan?.
Sekolah sudah tampak sepi, sebagian besar siswanya sudah pulang sejak 30 menit yang lalu, sebenarnya gue juga berniat pulang daritadi, tapi setelah dipikir-pikir ya ada baiknya gue jadi suporter teman-teman gue, kalo mereka menang, ferdy pasti ngajak kami makan-makan, haha, lumayan makan siang enak dan gratis.
"Ah cewe sombong itu!" gumam gue kesal begitu melihat cewe kelas XI angkuh itu berlari di seberang lapangan. Dia nangis. Paling-paling abis dikerjain si Ratu. Pikir gue, sambil mengingat-ngingat kejadian 2 minggu yang lalu, waktu gue ngebelain tuh cewe pas dia sekarat digencet Ratu dan geng sampahnya, dan setelah itu tuh cewe malah pergi gitu aja tanpa bilang terima kasih. Dasar cewe gatau terima kasih, batin gue kesal.
Tak lama kemudian, Ratu dan geng sampahnya muncul sambil tersenyum puas mengantarkan kepergian cewe angkuh itu.
Bingo! Gue tersenyum puas. Ternyata dugaan gue benar.
Sekolah sudah tampak sepi, sebagian besar siswanya sudah pulang sejak 30 menit yang lalu, sebenarnya gue juga berniat pulang daritadi, tapi setelah dipikir-pikir ya ada baiknya gue jadi suporter teman-teman gue, kalo mereka menang, ferdy pasti ngajak kami makan-makan, haha, lumayan makan siang enak dan gratis.
"Ah cewe sombong itu!" gumam gue kesal begitu melihat cewe kelas XI angkuh itu berlari di seberang lapangan. Dia nangis. Paling-paling abis dikerjain si Ratu. Pikir gue, sambil mengingat-ngingat kejadian 2 minggu yang lalu, waktu gue ngebelain tuh cewe pas dia sekarat digencet Ratu dan geng sampahnya, dan setelah itu tuh cewe malah pergi gitu aja tanpa bilang terima kasih. Dasar cewe gatau terima kasih, batin gue kesal.
Tak lama kemudian, Ratu dan geng sampahnya muncul sambil tersenyum puas mengantarkan kepergian cewe angkuh itu.
Bingo! Gue tersenyum puas. Ternyata dugaan gue benar.
Oke, gue jadi tertarik buat melihat muka sembab tuh cewe, bisa apa sih dia sama
si Ratu tanpa gue. Ga perlu berusaha keras gue udah bisa ngikutin tuh cewe dari
belakang. Ah dia mau nangis diam-diam di gedung tua ini rupanya. Pikir gue
begitu cewe itu berlari ke dalam areal bangunan tua yang sudah lama tidak
terpakai ini. Dengan santai gue mengikuti cewe itu memasuki gedung ini.
Cewe itu mengeluarkan pisau lipat dari saku roknya, Ooh, jadi dia mau bunuh diri, gumam gue geli saat melihat cewe itu mengarahkan pisau ke lengannya. Dasar ABG, sedikit-sedikit maunya bunuh diri, diputusin pacar bunuh diri, dapet nilai jelek bunuh diri, dan digencet si Ratu mau bunuh diri, dasar cewe bodoh! Baiklah, mari kita lihat apa cewe itu cuma sok berani atau benar-benar berani untuk mati, gue yakin bentar lagi juga tuh pisau dia lempar jauh-jauh, gue tersenyum meremehkan saat melihat tangannya gemetar memegang pisau itu.
"yakin lo udah siap buat mati?" tanya gue dengan nada mengejek pada cewe yang terduduk 10 meter di depan tempat gue berdiri ini. Dia justru makin terisak. Ternyata dia sok berani doang, gue nyengir melihat dia ketakutan begitu.
Namin Gue terperangah, ketika dia benar-benar mengiris urat nadinya. Jujur saja, pemandangan di depan gue ini sangat mengerikan. Baru pertama kali gue melihat orang bunuh diri. Darah mengalir perlahan dari lengannya, yaiks, bau amis.
Cewe itu mengeluarkan pisau lipat dari saku roknya, Ooh, jadi dia mau bunuh diri, gumam gue geli saat melihat cewe itu mengarahkan pisau ke lengannya. Dasar ABG, sedikit-sedikit maunya bunuh diri, diputusin pacar bunuh diri, dapet nilai jelek bunuh diri, dan digencet si Ratu mau bunuh diri, dasar cewe bodoh! Baiklah, mari kita lihat apa cewe itu cuma sok berani atau benar-benar berani untuk mati, gue yakin bentar lagi juga tuh pisau dia lempar jauh-jauh, gue tersenyum meremehkan saat melihat tangannya gemetar memegang pisau itu.
"yakin lo udah siap buat mati?" tanya gue dengan nada mengejek pada cewe yang terduduk 10 meter di depan tempat gue berdiri ini. Dia justru makin terisak. Ternyata dia sok berani doang, gue nyengir melihat dia ketakutan begitu.
Namin Gue terperangah, ketika dia benar-benar mengiris urat nadinya. Jujur saja, pemandangan di depan gue ini sangat mengerikan. Baru pertama kali gue melihat orang bunuh diri. Darah mengalir perlahan dari lengannya, yaiks, bau amis.
Langganan:
Postingan (Atom)